n
Still Stuck? Try Our Proxy Network  LegalSurf   OrkutPass    NewJumbo

  HOME

Wednesday, February 10, 2010

Monday, December 1, 2008

HAUL KE-12 GURUTTA AMBO DALLE

1Jam Di Murka Gurutta Ambo Dalle
Penulis: Med HATTA


Bagi sebahagian orang di murka oleh seseorang yang dicintai atau dihormati merupakan suatu kiamat yang menimpa orang tersebut. Berbeda dengan penulis murka oleh sang maha guru yang dicintai merupakan rahmat tertentu yang selalu dikenang dan menjadi motivasi hingga kini.

Adalah tradisi istimewa yang membedadakan Darud Da'wah Wal-Irsyad (DDI) dengan lembaga pendidikan islam lainnya, selain mengajarkan pendidikan formal di bangku sekolah, DDI juga menerapkan pengajian halaqah 2 kali sehari (ba'da Maghrib & ba'da Subuh) dan sepanjang 6 hari seminggu, kecuali hari Jum'at dikhususkan acara Traning Da'wah secara rutin.

Pengajian halaqah dihadiri oleh semua santri dari tingkat I'dadiyah, Tsanawiyah dan Aliyah serta guru-guru yang dipimpin oleh Ustaz-ustaz senior seperti Gurutta Ambo Dalle sendiri, DR. H. Abdurrahim Arsyad, H. Muhammad Yunus Kamba Lc, Drs. H. Jamaluddin Semmang, H. Lukmanul Hakim Lc, dll. Dalam pengajian-pengajian halaqah tersebut semua santri membaca kitab-kitab kuning atau kitab-kitab gundul (tidak berbaris)yang sudah dipilih seperti: Tafsir Jalalin, Riyadh Ashshalihin, Syarhul Hikam, Hushunul Hamidiyah, Kifayatul Akhyar, Bulughul Maram, Al Irsyad, dll semuanya 12 kitab, dan semua santri diwajibkan memilikinya.

Penulis terdaftar di Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangang - Pinrang tanggal 27 Juli 1983, tamat Tsanawiyah tahun ajaran 1985/86, tamat Aliyah tahun ajaran 1988/89. Dan berangkat ke Cairo 03 Nopember 1989, kemudian hijrah ke Maroko pada 27 Juni 1995 hingga kini.

Kenapa di Murka oleh Gurutta Ambo Dalle?

Ceritanya, pada salah satu pengajian halaqah ba'da Maghrib, malam Senin (tidak catat tanggal & bulannya) tahun 1985, waktu itu jadwal Gurutta Al Mukarram Syekh Haji Abdurrahman Ambo Dalle memberikan pengajian membaca kitab Syarhul Hikam. Seperti biasanya, sebelum Gurutta Ambo Dalle membaca dan menjelaskan isi kandungan kitab beliau terlebih dahulu meminta beberapa orang santri membaca secara bergantian untuk membiasakannya membaca kitab gundul dan membenarkan bacaannya serta mengurai qawaid/ tata bahasa arab (nahwu dan sharafnya), Gurutta Ambo Dalle sangat ahli dibidang ini.

Singkat cerita setelah beberapa kali Gurutta Ambo Dalle memerintahkan membaca tapi tidak seorang santri-pun yang memulai, dan biasanya juga penulis disetiap kesempatan seperti ini selalu pertama memulai membaca sekalipun bacaannya masih amburadul waktu itu, maka Gurutta mencari penulis yang kebetulan sibuk menunjukkan batasan bacaan pada salah seorang teman yang duduk disamping. Pemandangan ini membuat Gurutta murka dan marah besar dianggapnya penulis main-main dan mengganggu orang lain dalam pengajian.

Dari situ-lah awalnya penulis dimarahi tak henti-hentinya hingga azan Isya, mulai dari memelesetkan nama penulis yang kata beliau hari ini namanya bukan HATTA lagi tapi Khatta alias coret-coretan yang suka mencoret-coret dan mengganggu orang. Penulis diam dan meringis saja terus hingga berakhir pengajian. Penulis sangat sadar bahwa Gurutta Ambo Dalle sedang menasehati penulis dan santri-santri lainnya agar selalu tekun dan serius mengikuti setiap pengajian karena menurut beliau pengajian itu merupakan bagian dari ibadah sambil mengutip hadits, maksudnya: "Tiada seorang hamba-pun yang duduk dalam suatu majlis mengikuti pengajian halaqah kecuali Malaikat mengembangkan sayapnya menaungi hamba tersebut dari kampung halamannya sampai majlis seraya mendo'akannya".

Setelah shalat Isya penulis cepat-cepat mengambil sandal Gurutta Ambo Dalle dan menunggu didepan pintu mesjid... Begitu Gurutta keluar penulis meletakkan sandalnya didepan kedua kaki yang mulia Gurutta sambil berusaha menggapai tangannya ingin menciumnya sekaligus meminta maaf atas kejadian dipengajian tadi tapi Gurutta mengelak katanya tidak mau sapaan sama penulis lagi... Dengan perasaan sedih tidak mau disapa sama sang maha guru yang tercinta penulis berusaha mengadu dengan membaca ayat sekenanya "InnalLaha ghafurun rahim" dan menginterpretasikan sangat bebas pula bahwa: Allah saja memaafkan hambanya kenapa Gurutta tidak mau memaafkan saya... Ternyata usaha penulis kena hati Gurutta luluh... Beliau senyum sambil memegang kepala penulis katanya kamu sekarang sudah bagus dan jangan mengganggu orang lagi... Alhamdulillah, betapa nikmatnya disayang sama ulama...

Setelah itu penulis memohon Gurutta mengganti nama penulis tetapi dijawabnya tidak usah karena menurutnya nama penulis bagus sekali, "HATTA": beliau mengharapkannya seperti "Lailatul Qadr" (Salamun hiya hatta mathla'il fajr -- mengutip ayat surah Al Qadr), dan mendo'akan segala cita-cita tercapai (Hatta ghayatul amal)...

Seperti bulan ini, 12 tahun yang lalu tepatnya tanggal 29 Nopember 1996, Gurutta Al Mukarram Syekh Haji Abdurrahman Ambo Dalle telah pergi meninggalkan dunia fana ini menuju pangkuan kekasihnya Sang Khalik Yang Maha Pengasih dan Penyayang...


يأيتها النفس المطمئنة ارجعي الى ربك راضية مرضية فادخلي في عبادي وادخلي جنتي

اللهم أغفرله وارحمه واعفو عنه وأكرمه
اللهم وسع مدخله وادخله الجنة وغسله بالثلج والماء والبرد
اللهم يمن كتابه وهون حسابه ولين ترابه وثبت أقدامه وألهمه حسن الجواب
اللهم طيب ثراه واكرم مثواه واجعل الجنة مستقره ومأواه

اللهم نور مرقده وعطر مشهده وطيب مضجعه
اللهم آنس وحشته وارحم غربته وقه عذاب القبر وعذاب النار
اللهم نقه من خطاياه كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس
اللهم فسح له في قبره واجعله روضة من رياض الجنة ولا تجعله حفرة من حفر النار
اللهم انقله من ضيق اللحود والقبور إلى سعة الدور والقصور مع الذين أنعمت عليهم من الصديقين والصالحين والشهداء

اللهم اجعل له من فوقه ومن تحته ومن أمامه ومن خلفه وعن يمينه وعن يساره نورا من نورك يا نور السماوات والأرض
اللهم أبدله دارا خيرا من داره وأهلا خيرا من أهله وأزواجا خيرا من أزواجه واسكنه فسيح جناتك في الدراجات العلي آمين
اللهم إن كان قد أحسن فزد في إحسانه وإن كان قد أساء فتجاوز عن إساءته

يا أكرم من سئل ويا أوسع من جاد بالعطايا … خفف أحماله وحط من أوزاره واجعله في مقام من قام لك بالقرآن أناء الليل وأطراف النهار
اللهم كن له بعد الحبيب حبيبا ولدعاء من دعا له سامعا ومجيبا واجعل له من فضلك ورحمتك وجنتك حظا ونصيبا

اللهم من أحييته منا فأحييه على الإيمان ومن توفيته منا فتوفه على الإسلام

اللهم إنا نسألك توبة قبل الموت وراحة عند الموت ومغفرة بعد الموت
اللهم اجعل لنا عملا يؤنسنا في قبرنا إذا أوحشنا المكان ولفظتنا الأوطان وفارقنا الأهل والجيران
اللهم هب لنا نفوسا مطمئنة تؤمن بلقائك وترضى بقضائك تقنع بعطائك

اللهم أغفر لحيينا وميتنا وشاهدنا وغائبنا و صغيرينا وكبيرنا وجميع موتى المسلمين والمسلمات الذين شهدوا لك بالوحدانية ولنبيك بالرسالة وماتوا على ذلك
اللهم اجعل خير أعمالنا خواتيمها واجعل خير أيامنا يوم لقائك
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

وصلي الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

البقــــــــــــــــاء للــــــــــــه


Casablanca 29 Nopember 2008
Catatan: Mengenang haul 12 tahun wafatnya Gurutta Ambo Dalle

Saturday, October 25, 2008

Prof KH Ali Yafie (1926 - Sekarang)


Ulama Ahli Fiqh

Prof KH Ali Yafie, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), seorang ulama ahli Fiqh (hukum Islam). Dia ulama yang berpenampilan lembut, ramah dan bijak. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulsel, ini juga terbilang tegas dan konsisten dalam memegang hukum-hukum Islam.

Selain aktif di MUI, ulama kelahiran Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Dewan Penasehat The Habibie Centre.

Dia sudah menekuni dunia pendidikan sejak usia 23 tahun hingga hari tuanya. Diatas usia 70 tahun pun ulama yang hobi sepak bola, itu masih aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ali berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.

Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.

Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian dieruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.

Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauiddin, Makassar (1966-1972), ini mendirikan pesantren itu tahun 1947. Sudah banyak mantan santrinya yang kini telah menjadi orang. Di antaranya Mantan Menteri Agama Quraisy Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab.

Dia seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang produktif menulis buku. Dia telah menulis beberapa judul buku. Dia ulama yang berpola pikir modern dan tidak tradisional, seperti sebagian pemimpin pondok pesantren.

Kiai Ali (panggilan akrabnya), selalu mengedepankan Ukuwah Islamiyah di kalangan umat Islam Indonesia, dan tidak membeda-bedakan dari golongan Islam mana. Kearifan ini membuatnya diterima oleh semua pihak, baik dari kalangan Muhammaddiyah maupun kalangan Nahdatul Ulama, dan lain-lain

Salah satu tokoh pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini sudah menikah sejak usia 19 tahun. Saat itu, isterinya Hj Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Keluarga ini dikaruniai empat anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.

Selain pernah aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA), Ketua Umum Majelis Ulama (MUI), Ketua Dewan Penasehat MUI, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (BDN) dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.

Mantan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang, ini juga menjadi Anggota DPR/MPR (1971--1987), Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Ketua Dewan Syariah Nasional MUI.

Atas berbagai pengabdiannya, Kiai Ali, telah menerima Tanda Jasa/Penghargaan Bintang Maha Putra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah RI.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Friday, October 24, 2008

AGH Muhammad Abduh Pabbajah (1908 – Sekarang)


AGH Muhammad Abduh Pabbajah (1908 – Sampai sekarang), Salah seorang pendiri Darud Da’wah Wal Irsuad, sekretaris pertama Pengurus Besar DDI. Dan Pemimpin Pesantren DDI Al Furqan Parepare.

Ketika Gurutta Ambo Dalle berada dalam lingkungan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar, maka Gurutta Pabbajah – lah tampil sebagai Pejabat Ketua Umum sementara DDI mengantikan Gurutta Ambo Dalle, umurnya ditaksir sudah menghampiri seratus tahun.

AGH Abduh Pabbajah dan AGH Abdurrachman Ambo Dalle bersama sejumlah ulama Sulsel lainnya mendirikan DDI di Soppeng Riaja tahun 1938.

Di antara pendiri DDI, sisa AGH Abduh Pabbajah dan AGH Ali Alyafie yang masih hidup. Alyafie kini menetap di Jakarta.

AGH Muhammad Yunus Martan (1906 – 1986)


AGH Muhammad Yunus Martan (1906 – 1986), adalah pimpinan ke-2 Pesantren As’adiyah, sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia bagian timur. Didirikan oleh KH. Muhammad As’ad pada 1928. Pesantren As’adiyah adalah pelopor gerakan Islam tradisionalis moderat di Sulawesi Selatan.

Gurutta Yunus Martan juga merupakan pendiri Radio Siaran As’adiyah (RSA), dengan tujuan menyebarkan gagasan ke Islaman yang menghargai dinamika masyarakat Sulawesi Selatan yang sangat plural, RSA yang berada pada frekuensi 86.4 AM ini didirikan pada 1967.

Gurutta Yunus Martan dinilai tokoh yang paling sukses memimpin Pesantren As’adiyah. Selain berkembangnya cabang-cabang Pesantren
As’adiyah, pendirian radio adalah ide cemerlang yang belum terpikirkan oleh siapapun. Karena itu dulu orang menyebut Gurutta Yunus Martan sebagai kyai yang lahir sebelum zamannya. “Artinya ketika orang lain belum memikirkan radio sebagai media dakwah, beliau sudah memikirkannya.

Gurutta meninggal dunia pada tahun 1986.

AGH Daud Ismail (1907 - 2006)


AGH Daud Ismail, sosok ulama besar Sulawesi Selatan yang memiliki peran penting terhadap pengembangan Lembaga Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Beliau adalah salah seorang arsitek berdirinya Datud Da’wa wal Irsyad (DDI) bersama almarhum AGH Abdurrahman Ambo Dalle dan AGH Muhammad Abduh Pabbajah serta ulama-ulama sunni Sulawesi Selatan lainnya. Beliau Lahir di Cenrana Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng tahun 1907, buah perkawinan dari pasangan H. Ismail dan Hj. Pompola. Gurutta Daud Ismail juga dikenal sebagai ulama ahli tafsir bahkan ia berhasil membuat tafsir (terjemahan) Alquran sebanyak 30 juz dalam bahasa Bugis.

Pada tahun 1942 istri pertamanya, yang selalu setia mendampingi perjuangan beliau berpulang kerahmatullah di Sengkang. Dari istri pertama beliau ini dikarunia tiga orang anak, yaitu Drs H. Ahmad Daud. Sayang umur anak pertamanya ini tidak berumur sepanjang beliau. Dalam umur menjelang 50 tahun, H Ahmad Daud berpulang kerahmatullah. Semasa hidupnya, Ahmad Daud sempat menjadi Dosen IKIP Ujung Pandang, kini Universitas Negeri Makassar. Anak kedua beliau bernama H Basri. Kepada H Basri Gurutta Daud Ismail menyerahkan pimpinan Pondok Pesantren YASRIB. Namun, lagi-lagi beliau harus kehilangan calon pengganti. H Basri ternyata mendahului sang ayah menghadap Khalik. Salah seorang lagi anak Gurutta dari istri pertamanya juga kini sudah meninggal dunia.

Istri kedua Gurutta Daud Ismail bernama Hj. Farida. Dari perkawinannya dengan Hj Farida dikaruniai tiga orang anak. H. Syamsul Huda, Nurul Inayah, sekarang Pegawai Pengadilan Agama di Watang soppeng, dan Rusydi, yang sekarang jadi staf Pegawai BNI di Jakarta.

Gurutta Daud Ismail mengawali pendidikannya dari kolong rumah. Di sana Gurutta mulai belajar mengaji Al quran pada orang tua kandungnya. “Nappaka lao mangngaji pasantren,” (Kemudian saya melanjutkan di pendidikan pesantren) di sejumlah ulama di Sengkang. Kebetulan waktu itu, menurut beliau sudah ada ulama-ulama besar. Antara tahun 1925 – 1929 beliau juga belajar kitab qawaid di Lapasu Soppeng Riaja, sekitar 10 KM dari Mangkoso, 40 KM dari Kota Pare Pare. Di sana Gurutta Daud Ismail belajar pada seorang ulama yang bernama Haji Daeng. Pada masa itu pula beliau belajar kepada Qadhi Soppeng Riaja, H, Kittab.

Setelah Anre Gurutta H. Muhammad As’ad kembali dari Tanah Suci dan mendirikan Pesantren Bugis di Sengkang pada tahun 1927 yang bernama Al-Madrasatul Arabiyah Al-Islamiyah (MAI), maka pada tahun 1930 Daud Ismail kembali ke Sengkang untuk belajar kepada Anre Gurutta H.M. As’ad dan termasuk santri angkatan II, setelah Anre Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle. “Laing memetto gurutta Sade` usedding batena mappa`guru”, (Saya merasakan memang agak lain waktu saya belajar pada Gurutta Sade – panggilan akrab bagi Anre Gurutta Muhammad As`ad - dibanding waktu saya belajar di tempat lain), demikian kenang Gurutta Daud Ismail.

Selama belajar di Sengkang beliau merasakan banyak sekali kemajuan khususnya dalam menguasai kunci ilmu-ilmu agama. Misalnya, Ilmu Qawaid, Ilmu Arodi, Ilmu Ushul Fiqhi, Ilmu Mantiq dan lain-lainnya. Hal itu cukup dirasakan oleh beliau karena metode mengajar yang diterapkan oleh Gurutta H.M. As’ad terbilang sudah lebih maju dari metode yang beliau dapatkan sebelumnya. Sehingga menurut pengakuan beliau, santri-santrinya cepat menguasai apa yang diajarkan.

Salah satu kesan mendalam Gurutta Daud Ismail kepada Anre Gurutta As`ad, ketika beliau mengajarkan ilmu Arudhi. Arudhi ini beliau ajarkan setelah Shalat Isya, hingga larut malam. Bahkan terkadang sampai jam satu malam. Anehnya, Gurutta Daud Ismail hanya diajarkan satu malam ilmu Arudhi. Keesokan harinya beliau langsung diberi kitab untuk dipelajari sendiri.

Inilah salah satu kelebihan dan keunikan Anre Gurutta As`ad dalam mendidik santri-santrinya. Misalnya, ketika belajar ilmu Arudhi, gurutta As’ad hanya memilih sejumlah santri pilihan untuk diajar satu malam saja memberikan penjelasan kepada santrinya tanpa buku pegangan. Namun keesokan harinya santri-santrinya telah mampu menerapkannya dalam menelaah kitab kuning. Padahal ilmu Arudhi termasuk salah satu cabang ilmu yang paling sukar dipelajari di dunia pesantren. Dan menurut Gurutta Daud Ismail, metode itu jugalah yang diterapkan Anre Gurutta Abdurrahman Ambo Dalle dalam menyusun beberapa kitab.

Setelah belajar langsung kepada Anre Gurutta As`ad, di Sengkang beliau kemudian dipercayakan untuk mengajar pada tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, meskipun beliau tetap belajar kepada gurutta As’ad. Kebetulan pada waktu itu, belum ada tingkat Aliyah.

Setelah membentuk tim pengajar, Anre Gurutta As`ad, menurut penuturan Gurutta Daud Ismail, tidak lagi langsung berhadapan dengan satri baru. Tapi hanya berhadapan langsung dengan beberapa santri senior. Dari santri senior inilah kemudian mengajarkan kepada santri yang lain.
Gurutta Daud Ismail, temasuk santri yang paling disayangi oleh Anre Gurutta As`ad. Hal itu dibuktikan dengan ketatnya pengawasan kepada beliau. Beliau tidak diizinkan meninggalkan pesantren. Hingga memasuki masa sulit di mana beliau harus meninggalkan Sengkang.

Pada tahun 1942, ketika pecah perang dunia II, merupakan masa sulit yang dialami Gurutta Daud Ismail. Kondisi tersebut membuat beliau terpaksa meninggalkan Sengkang untuk kembali ke kampung halamannya di Soppeng. Salah satu cobaan berat yang beliau hadapi waktu itu adalah berpulangnya kerahmatullah istri beliau, yang pertama. Namun, sayang karena usianya sehingga beliau sendiri sudah lupa siapa nama istri pertamanya itu. Dengan berat hati gurutta As’ad terpaksa harus merelakan kepulangan beliau.

Tak lama kemudian, pada tahun 1942 – 1943 beliau diminta mengajar di Al-Madrasatul Amiriyah Watang soppeng menggantikan Sayyed Masse. Dan waktu itu juga beliau diangkat menjadi Imam Besar (Imam Lompo). Hingga akhirnya beliau memutuskan meninggalkan perguruan tersebut, karena dibatasi gerakannya oleh Nippon dan adanya latihan menjadi tentara Jepang (PETA).

Pada tahun 1944 datang panggilan Datu Pattojo untuk memberikan pendidikan di tempatnya. Sekitar tahun 1945 beliau diangkat menjadi Qadhi Soppeng menggantikan Sayyed Masse (selama 6 tahun) hingga terbentuknya Departemen Agama Kab. Bone pada tahun 1951 yang membawahi wilayah Soppeng. Lalu kemudian diangkat kepenghuluan yang bertempat di Watampone.

Karena wasiat dari gurutta As’ad, bahwa Gurutta Daud Ismai harus kembali ke Sengkang untuk memimpin MAI. Maka meskipun dengan resiko harus meninggalkan status pegawai negerinya, pada tahun 1953 beliau kembali ke Sengkang untuk memimpin MAI dan pada masa beliaulah MAI diintegrasikan menjadi Al-Madrasatul As’adiyah (MA) untuk mengenang jasa-jasa Anre Gurutta As’ad.

Namun. Gurutta Daud Ismail hanya menetap dan memimpin MA Sengkang, selama 8 tahun. Karena adanya desakan dari Soppeng agar beliau kembali membina madrasah di daerahnya. apalagi waktu itu beliau merasa sudah ada kader-kader ulama yang dapat menggantikan beliau.

Di soppeng, K.H. Daud Ismail pernah mendirikan Madrasah Muallimin. Dan pada tahun 1967 diangkat kembali menjadi Qadhi dan membentuk Yayasan Perguruan Islam BOW. Beliau juga pernah membentuk organisasi Badan Amal. Dan hingga sekarang beliau tetap membina Ponpes Yasrib.

Adapun karya tangan yang pernah beliau tulis, antara lain Ashshalatu Miftahu Kulli Khaer (bahasa Bugis), Carana Puasae dan Tafsir dan Tarjamah Al-Qur’an 30 Juz dalam bahasa Bugis. Yang terakhir ini merupakan karya terbesar beliau.
Gurutta Haji Daud Ismail meninggal dunia, Senin malam (21/8) pukul 20:00 Wita di rumah sakit Hikmah Makassar dalam usia 99 tahun, setelah menjalani perawatan selama tiga pekan akibat usia lanjut.

Thursday, October 23, 2008

AGH. Muhammad As'ad (1906 - 1952)


Anre Gurutta (AG) H. M. As’ad. (Dalam masyarakat Bugis dahulu beliau digelar Anre Gurutta Puang Aji Sade’). Beliau merupakan Mahaguru dari Gurutta Ambo Dalle (1900 - 1996), adalah putra Bugis, yang lahir di Mekkah pada hari Senin 12 Rabi’ul Akhir 1326 H/1907 M dari pasangan Syekh H. Abd. Rasyid, seorang ulama asal Bugis yang bermukim di Makkah al-Mukarramah, dengan Hj. St. Saleha binti H. Abd. Rahman yang bergelar Guru Terru al-Bugisiy.

Pada akhir tahun 1347 H/1928 M, dalam usia sekitar 21 tahun. AG H. M. As’ad merasa terpanggil untuk pulang ke tanah leluhur, tanah Bugis, guna menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk tanah Wajo khususnya, dan Sulawesi pada umumnya. Beliau berbekal ilmu pengetahuan agama yang mendalam dan gelora panggilan ilahi, disertai semangat perjuangan yang selalu membara. Pada waktu itu, memang berbagai macam bid’ah dan khurafat masih mewarnai pengamalan agama Islam, oleh karena kurangnya pendidikan dan da’wah Islamiyah kepada mereka.

Langkah pertama yang dilakukan beliau setelah tiba di kota Sengkang adalah mulai mengadakan pengajian khalaqah di rumah kediamannya. Di samping itu beliau mengadakan da’wah Islamiyah di mana-mana, serta membongkar tempat-tempat penyembahan dan berhala-berhala yang ada disekitar kota Sengkang. Pada tahun pertama gerakan beliau, bersama dengan santri-santri yang berdatangan dari daerah Wajo serta daerah-daerah lainnya, beliau berhasil membongkar lebih kurang 200 tempat penyembahan dan berhala.

Pada tahun 1348 H/1929 M, Petta Arung Matoa Wajo, Andi Oddang, meminta nasehat Anre Gurutta H. M. As’ad tentang pembangunan kembali masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jami, yang terletak di tengah-tengah kota Sengkang pada waktu itu. Setelah mengadakan permusyawaratan dengan beberapa tokoh masyarakat Wajo, yaitu : (!) AG H. M. As’ad, (2) H. Donggala, (3) La Baderu, (4) La Tajang, (5) Asten Pensiun, dan (6) Guru Maudu, maka dicapailah kesepakatan bahwa mesjid yang sudah tua itu perlu dibangun kembali. Pembangunan kembali masjid itu dimulai pada bulan Rabiul Awal 1348 H/1929 M, dan selesai pada bulan Rabiul Awal 1349/1930 M. Setelah selesai pembangunannya, maka Masjid Jami itu diserahkan oleh Petta Arung Matoa Wajo Andi Oddang kepada AG H. M. As’ad untuk digunakan sebagai tempat pengajian, pendidikan, dan da’wah Islam. Sejak itulah beliau mendirikan madrasah di Mesjid Jami’ itu, dan diberi nama al-Madrasah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah (MAI) Wajo.

Tingkatan-tingkatan yang beliau bina pada waktu itu adalah:
1. Tahdiriyah, 3 tahun
2. Ibtidaiyah, 4 tahun
3. Tsanawiyah, 3 tahun
4. I’dadiyah, 1 tahun
5. Aliyah, 3 tahun

Semua kegiatan persekolahan ini dipimpin langsung oleh AG H. M. As’ad, dibantu oleh dua orang ulama besar, yaitu Sayid Abdullah Dahlan garut, ex. Mufti Besar Madinah al-Munawwarah, dan Syekh Abdul Jawad Bone. Beliau juga dibantu oleh murid-murid senior beliau seperti AG H. Daud Ismali, dan almarhum AG H. Abd. Rahman Ambo Dalle.
Pengajian khalaqah (pesantren) yang diadakan setiap ba’da shalat Subuh, ba’da shalat Ashar, dan ba’da shalat Magrib, yang semula diadakan di rumah beliau, dipindahkan kegiatannya ke Mesjid Jami Sengkang.
Pesantren dan Madrasah yang didirikan dan dibina oleh beliau itulah yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren As’adiyah sekarang.

Selain Pesantren dan Madrasah tersebut di atas, AG H. M. As’ad juga membuka suatu lembaga pendidikan yang baru, yaitu Tahfizul Qur’an, yang dipimpin langsung oleh beliau, dan bertempat di Masjid Jami Sengkang.
Pada tahun 1350 H/1931 M. atas prakarsa Andi Cella Petta Patolae (Petta Ennengnge), dengan dukungan tokoh-tokoh masyarakat Wajo, dibangunlah gedung berlantai dua di samping belakang Masjid Jami Sengkang. Bangunan itu diperuntukkah bagi kegiatan al-Madrasah al-Arabiyyah al-Islamiyyah (MAI) Wajo, karena santrinya semakin bertambah.

AG H. M. As’ad berpulang ke rahmatullah pada hari Senin 12 Rabiul Akhir 1372 H/29 Desember 1952 M. dalam usia 45 tahun. Sesuai dengan wasiat beliau beberapa saat sebelum wafat, peninggalan beliau berupa Madrasah dan pesantren kemudian dilanjutkan pembinaannya oleh dua murid senior beliau; AG H. Daud Ismail, dan AG H. M. Yunus Martan.

Pada tanggal 13 Agustus 1999, berdasarkan Undang-undang No. 6 Tahun 1959, dan Keppres RI No. 076/TK/Tahun 1999, Presiden RI telah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Naraya kepada AG H. M. As’ad, karena jasa-jasa beliau yang luar biasa terhadapa negara dan bangsa Indonesia. Tanda penghormatan itu diterima di Jakarta atas nama beliau oleh putra beliau, H. Abd. Rahman As’ad.

** Sumber Tulisan: http://www.asadiyahsengkang.or.id/index.php

Generasi Muda DDI Rintis Pendidikan Bergaya Mekah-Kanada


Generasi Muda DDI Rintis Pendidikan Bergaya Mekah-Kanada

MEMASUKI usia 60 tahun, sekelompok generasi muda Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) mencoba melakukan terobosan. Langkah berani yang sebelumnya dinilai tabu sejumlah ulama sepuh ini justru mendapat respon dari kalangan pengurus dan tenaga pendidik di lingkup DDI. Modernisasi metodologi pendidikan di sekolah-sekolah DDI dinilai tak bisa ditunda lagi.

Geliat modernisasi metodologi pendidikan di sekolah DDI itu di awali penelitian selama setahun oleh Lembaga Kajian Masyarakat dan Pesantren (LKMP). Lembaga ini meneliti 34 pesantren terbesar milik DDI di Makassar, Maros, Parepare, dan Wajo.

LKMP merekomendasikan perlunya DDI segera memodernisasi sistem pendidikannya jika tidak ingin tertelan masa dan lekang oleh zaman yang berubah. Hasil survei dan rekomendasi itu lalu disosialisasikan kepada para guru-guru utama sekolah DDI.

Acara yang dilaksanakan di ruang pola Akademi Manajemen Koperasi (Amkop), Toddopuli, Makassar, Juni 2006 ini sekaligus sosialisasi awal metodologi pendidikan moderen. "Semua sekolah DDI yang kami survei mengeluhkan soal metodologi. Kami lalu merancang bentuk sosialisasi dan pelatihan bagi mereka," ujar Direktur LKMP, Syamsul Patinjo, Kamis (26/4).

Sistem pendidikan di DDI mulai berjalan sejak Tahun 1936. Berupa gabungan sistem pendidikan mangngajit tudang (duduk melantai) dan pendidikan sekolah . Sistem ini dirintis Anre Gurutta Haji (AGH) Muhammad As`ad dan AGH Abdurrachma Ambo Dalle. Dua tokoh inilah yang memahat tradisi dan menyulam sajadah panjang sistem pendidikan DDI.

Sistem pendidikan tersebut dibawa AGH As`ad dari Mekah. Ulama ini membuka sekolah Madrasah Arabiah Islamiyah (MAI) di Sekang, Wajo, Tahun 1928. Sebelumnya, As`ad yang lahir dan besar di Mekah belajar di Masjidil Haram, Mekah. Sejumlah peneliti mengungkapkan, sistem pendidikan di Mekah itulah yang diterapkan As`ad di Sengkang.

Wakil Sekretaris Jenderal PB DDI, Azhar Arsyad, mengatakan, sistem pendidikan mangngajit tudang tidak sepenuhnya harus ditanggalkan di lingkup DDI. Sebab sistem inilah yang justru menjadi sumber berkah yang menghasilkan ulama-ulama besar. "Jadi yang perlu mengawinkan antara sistem pendidikan Mekah dengan Kanada," ujarnya.


Latih Guru DDI Demokratisasi dan HAM

BELAJAR di pesantren dikenal dengan disiplin yang tinggi. Pembina melakukan pengawasan melekat selama 24 jam. Sebab para santri (siswa-siswi) hidup sepondok dengan para pembina. Akibatnya, santri tidak bebas berkreasi dan kerap mengalami gangguan fisik dari santri yang lebih senior.

Ke depan, pendidikan di pesantren, khususnya di pesantren milik DDI berubah. Lembaga Kajian Masyarakat dan Pesantren (LKMP) dalam satu tahun terakhir getol melakukan sosialisasi dan pelatihan sistem pendidikan demokratisasi dan hak azasi manusia (HAM) bagi para tenaga pengajar di sekolah-sekolah DDI.

LKMP melibatkan tim pelatih dan fasilitator dari pakar metodologi pendidikan di Jakarta, alumni pelatihan di Canada, dan Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta.
Inti pelatihan itu, pengenalan sistem fortopolio, yakni pembelajaran aktif. Siswa siswa diajar membahasan, merumuskan, dan memecahkan masalah yang ada.

"Para guru DDI juga kami latih metode pendidikan berbasis demokratisasi dan hak azasi manusia," jelas Direktur LKMP, Syamsul Patinjo, Kamis (26/4).

Puncak dari upaya itu dilakukan LKMP, Senin (30/4), di Hotel Bumi Asih, Jl Jenderal Ratulangie, Makassar. Di depan guru dan pembina utama DDI, LKMP memaparkan hasil akhir dari program sosialsiasi sistem pendidikan moderen di sekolah milik DDI.

Acara tersebut dihadiri pimpinan Pusat Kurikulum Nasional (PKN), Ketua Umum Pengurus Besar (PB) DDI Prof Dr Abdul Muis Kabry, dan Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Azhar Arsyad.

LKMP ini lembaga yang bekerja sama dengan PB DDI dalam melakukan survei dan sosialisasi bagi sekolah DDI. Organisasi kemasyarakat (Ormas) Islam yang berpusat di Sulsel ini memiliki 1029 sekolah, delapan perguruan tinggi, 89 pesantren. Cabang DDI tersebar di 20 provinsi di Indonesia. Termasuk di Mesir dan Johor, Malaysia.


profil DDI:
cikal-bakal: 21 Desember 1938
dideklarasikan: 5 Februari 1947 di Soppeng
pendiri utama: AGH Abd Rahman Ambo Dalle
pendiri:
-AGH Daud Ismail
-AGH M Abduh Pabbajah
-AGH Al Yafie
-AGM M Tahir Imam Lapeo
pengurus wilayah: delapan
pengurus daerah: 274
pengurus cabang: 392
pengurus ranting: 127
sekolah: 1029
perguruan tinggi: 18
pesantren: 89
tersebar di 20 provinsi di Indonesia

badan otonom:
Ummahat DDI (UMDI)
Fatayat DDI (Fadi(
Ikatan Pemuda DDI (IPDDI)
Ikatan Mahasiswa DDI (IMDI)
Ikatan Guru DDI (IGDI)
Ikatan Alumni DDI (IADI)


perintis dan pendiri
Nama: Muhammad As`ad bin Haji Abdur Rasyid Al Bugisy
Lahir: Mekah, 1907
Wafat: Sengkang, 29 Desember 1952
Pendidikan: belajar lewat pengajian-pengajian yang dilakukan di Masjidil Haram oleh para syekh dan ulama-ulama besar. Menghafap 30 juz Al Quran sejak berumur tujuh tahun.

Nama: Abdurrachmad Ambo Dalle
Lahir: Lahir, Sengkang 1900
Wafat: Makassar, 29 Nopember 1996
Pendidikan: Sekolah Rakyat, sekolah pendidikan guru Muhammadiyah, pengajian klasik di Pulau Salemo (Pangkep), MAI. Sering mengikuti kursus pendidikan dan menghadiri pengajian di Mekah. (as kambie)

** Sumber Bertita:TRIBUN TIMUR MAKASSAR RSS (Jumat, 27-04-2007).

Tuesday, October 21, 2008

DDI dan Penyimpangan Politik NU


KH ABDURRAHMAN WAHID
Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB


DALAM perjalanan sejarahnya, Darul Dakwah wal- Irsyad (DDI) yang tersebar dalam ratusan madrasah di Sulawesi Selatan memiliki sejarah yang sangat menarik untuk diperhatikan.

Salah seorang penggedenya, Abdul Muis Kabry, tadinya adalah anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Malang. Karena menjadi anggota salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU), kemudian dia terlibat menjadi anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sementara itu, Sulawesi Selatan mengalami proses politik sendiri, yaitu hubungan organisasi- organisasi Islam dengan Golkar menjadi sangat erat. Hal ini berpengaruh terhadap DDI, lalu berdirilah DDI Ambo Dalle. Hal itu merupakan kejadian sangat menarik karena terlihat bagaimana perkembangan sebuah organisasi Islam lokal yang berpandangan sama dalam urusan keyakinan/aqidah, namun terpecah karena dipengaruhi perkembangan politik.

Menurut penulis,justru orang-orang NU yang harus belajar dari perkembangan DDI. Ulama besar KH Ambo Dalle dan para anak buahnya harus menerima kenyataan bahwa yang mengambil pemihakan politik lebih dahulu adalah NU kepada PPP. Kalau dilihat dari sudut pandangan ini, maka berdirinya DDI Ambo Dalle adalah reaksi belaka terhadap keputusan PBNU itu, yang juga masih berlanjut hingga hari ini.

Kiprah NU yang kemudian membidani lahirnya PPP dalam tahun 70-an justru dianggap sebagai "penyimpangan politik". Sedangkan masyarakat NU yang mengikuti Partai Kebangkitan Bangsa yang lahir pada 1998 justru dianggap sebagai "penerus perjuangan NU". Sedangkan di luar lingkup PKB,dewasa ini ada klaim bahwa Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) adalah salah satu penyimpangan dari PKB. Kita lihat saja nanti, benarkah klaim PKNU sebagai pembawa aspirasi politik warga NU, memilik akar dalam kehidupan politik kita.

Sejarah politik yang melatarbelakangi PKNU juga harus diketahui. Di samping perkembangan tersebut, tentu saja ada kejadiankejadian politik lain yang harus diketahui untuk membuat kita mengenal NU. Umpamanya sejarah politik kita mencatat pondok pesantren sebagai basis NU.Para pendiri dan angkatan-angkatan permulaan NU adalah jebolan pondok pesantren.

Di luar itu, mereka juga memiliki kebutuhan-kebutuhan lain, seperti identifikasi diri mereka sebagai bagian dari perkembangan keadaan di luar NU. Umpamanya saja dalam dukungan kepada pemerintah dan sebagainya. Untuk menjaga hubungan baik dengan lembaga-lembaga dan tokoh-tokoh pemerintahan itu, justru hubungan dekat mereka dengan NU disembunyikan, karena pada waktu itu hubungan politik antara sistem pemerintahan kita dan Golkar sedang berada pada tahap yang paling tinggi.

Nah, hal semacam inilah yang kemudian dialami oleh berbagai organisasi Islam, seperti DDI, Nahdlah al-Wathon (NW) di Pulau Lombok. Tuan Guru Zainudin di Pancor, sebagai pendiri NW,harus menempuh jalan yang sama,seperti Syekh Ambo Dalle pendiri DDI. Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan antara Persatuan Tarbiyah Indonesia (Perti) dengan Al-Wasliyah.

Secara keyakinan aqidah, tidak ada perbedaan, tetapi kedua-duanya berbeda dalam sikap politik, terutama dalam hal hubungan politik dengan Golkar. Akibat seperti pemunculan DDI itu,dalam pandangan penulis,adalah hal yang tidak begitu diperhatikan dalam perkembangan NU oleh para pemimpinnya sendiri. Mengapakah hal seperti itu sampai terjadi? Karena dalam kurun waktu 32 tahun NU berpolitik, organisasi itu dibiarkan menjadi kuda tunggangan para pemimpin NU sendiri. Jadi tidak ada pihak di lingkungan NU yang mencoba melihat persoalan secara menyeluruh.

Apa yang terjadi dengan berdirinya dua DDI dan dua NW tanpa adanya kebutuhan untuk mempelajari sejarah dari pihak PBNU sendiri jelas sekali memperlihatkan kebodohan sejarah.Setelah begitu banyak anak-anak muda NU sendiri yang terserak-serak di banyak organisasi Islam, terbukti dengan jelas bahwa pihak NU tetap belum memikirkan kaum nahdliyyin sebagai sebuah elemen politik yang bulat. Sebagai contoh,melalui Muktamar Banjarmasin 1936,para pendiri NU menetapkan bahwa untuk melaksanakan syari'ah tidak diwajibkan adanya negara Islam.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang menganggap harus ada negara Islam, tetapi dalam pandangan keagamaan mereka, tetap seperti orang-orang NU umumnya, yang antaranya berada di lingkungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Tentu saja ada reaksi atas sikap seperti itu. Di satu pihak, ada yang menganggapnya sebagai kewajaran saja,ada pula yang menganggap telah terjadi penyimpangan politik. Memang,tiap gerakan memiliki perkembangan politiknya sendiri yang menjadikan kajian tentang perkembangan politik di sebuah negara menjadi sangat menarik.

Akan tetapi, tentu saja bagi mereka yang melihat perkembangan yang terjadi di belakang sejarah lahiriah saja. Kalau kita menukik lebih dalam, tampak bahwa apa yang kita anggap kejadian demi kejadian biasa-biasa saja, sebenarnya merupakan bahan kajian perkembangan politik. Hal-hal seperti itulah yang dapat kita 'tarik' dari buku 'DDI dalam Simpul Sejarah Kebangkitan dan Perkembangan', yang ditulis secara rinci oleh Prof Dr Abdul Muis Kabri itu. Karena itu, masih terbuka lebar peluang untuk melakukan kajian mendalam, seperti untuk menulis disertasi tentang gerakan-gerakan tradisional Islam.

Di samping gerakan- gerakan Islam modernis seperti Ikhwanul Muslimin,ternyata kajian mendalam tentang kelompokkelompok tradisional juga diperlukan. Dari perbandingan antara keduanyalah kita akan mampu memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang diri kita sendiri. Ini adalah bagian dari perkembangan sejarah yang bersifat penolakan atau penerimaan gagasan atau sikap hidup tertentu.

Sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar saja terjadi dalam hidup berkelompok dalam sejarah manusia.Namun,justru pengamatan seperti inilah yang jarang disadari para pelakunya. Penolakan atau penerimaan sebuah gagasan,menyimpan dalam dirinya variasi yang sangat tinggi dari perkembangan yang dialami oleh sebuah kelompok, apakah itu tradisional ataupun modern. Pahamkah kita akan arti sebenarnya dari pola perkembangan seperti itu? (Sindo/23/4)

** Sumber Tulisan: http://gp-ansor.org

Arung, To-panrita dan Relasi Kuasa di Sulsel


Bagaimana idealnya hubungan cendekiawan vis a vis kekuasaan? Ada yang berpendapat, cendekiawan seharusnya tidak terlibat dalam kekuasaan. Yang lain melihat cendekiawan bisa berperan ganda; sebagai birokrat yang baik sembari tetap berperan sebagai intelektual yang jernih dan kritis. Namun, karena cendekiawan (intellectual) pada dasarnya lebih merupakan kapasitas dan kualitas ketimbang status dan posisi, cendekiawan dan kekuasaan sesungguhnya tidak perlu diposisikan kelewat dikotomis. Mengikuti Antony D. Smith (1981:109) yang melekatkan istilah intellectual untuk a type of personality and mental attitude, dapat dikatakan, kecendekiaan adalah kapasitas pribadi yang bisa dimiliki siapa pun sekaligus akumulasi peran seseorang di bidang-bidang non-intelektual, termasuk birokrasi.

Dengan alur argumen demikian, seorang cendekiawan takperlu dianggap kehilangan kecendekiaan hanya karena dia memegang kekuasaan formal dalam masyarakat. Banyak tokoh dalam pentas politik nasional yang bisa dijadikan contoh di mana peran cendekiawan dan negarawan terpadu secara harmonis. Sebutlah misalnya Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Natsir, Soejatmoko, Mukti Ali, Emil Salim, Munawir Sjadzali, Quraish Shihab, dll. Tulisan ini berupaya menunjukkan beberapa contoh peran cendekiawan dalam kekuasaan politik di Sulawesi Selatan di masa lampau sebagaimana terlihat dalam konsep “topanrita.”

Secara etimologis, to panrita berarti orang yang menyaksikan. Kata panrita bisa berarti keahlian teknis, seperti tercermin dari ungkapan panrita lopi (ahli pembuat perahu). Walau setahu saya belum ada penelitian semantik atas konsep ini, saya menduga kata topanrita memiliki nisbah epistemologis dengan --jika bukan elaborasi dari-- kata Sanskerta ‘pandita,’ yang agaknya juga melahirkan kata ‘pendeta.’ Faktanya, dalam satu dan lain hal, sosok seorang pandita memang identik dengan peran sosok topanrita dalam masyarakat Bugis-Makassar. Menurut Mochtar Pabottingi, seorang cendekiawan asal Sulsel, topanrita adalah orang yang bersaksi, melihat dan menyimak atas suatu keadaan dan menyatakan keadaan sebenarnya. Di sini, topanrita bukan saja berperan sebagai pengamat yang objektif atas keadaan di sekitarnya, tapi juga memberi penilaian, kritik dan pertimbangan atas suatu keadaan. Dengan makna ini, tidak berlebihan jika topanrita diidentikkan dengan konsep cendekiawan (intellectual) dalam terminologi modern.

Kualitas dan kapasitas utama topanrita bisa disimpulkan dari paseng (petuah) Ma'danrengnge ri Majauleng yang bernama La Tenritau: "Aja' nasalaiko acca sibawa lempu" (Janganlah engkau kehilangan kecakapan dan kejujuran). Yang dimaksud La Tenritau dengan acca, kemampuan mengerjakan semua pekerjaan dan menjawab semua pertanyaan serta kecakapan berkata-kata baik, logis dan lembut sehingga menimbulkan kesan baik pada orang lain. Sementara lempu' adalah pola pikir dan prilaku yang selalu benar, tabiat baik dan ketakwaan kepada Dewata Seuwae (Tuhan Yang Esa).

Dalam perspektif masyarakat Bugis-Makassar, integrasi kecerdasan dan kejujuran merupakan kualifikasi penting setiap calon pemimpin. Ketika ditanya Arumpone (Raja Bone) tentang pangkal kecerdasan (appongenna accae), Kajao La Liddong –seorang cendekiawan dan mahapatih raja Bone-- menjawab: “lempue’” (kejujuran). Kajao La Liddong juga menyebut kejujuran raja (komalempu’i Arung Mangkaue) sebagai salah satu di antara tellu tanranna nasawe ase (syarat keberhasilan panen). La Waniaga Arung Bila, cendekiawan Soppeng abad ke-16, berkata: “Temmate lempu’e mawatang sapparenna atongengengnge’” (Kejujuran akan terus hidup, tapi kebenaran sulit dicari).

Di masa lalu masyarakat percaya, prilaku pemimpin menentukan kondisi kehidupan mereka. Hal ini turut berperan mengekang raja agar tidak bertindak sewenang-wenang demi terciptanya keadilan, keamanan dan kemakmuran dalam kerajaan. Menurut Andi Zainal Abidin, salah seorang di antara sangat sedikit ahli sejarah dan kebudayaan Sulsel, karena memiliki wewenang memperingatkan raja dan para pembantunya, negarawan dan ahli filsafat dahulu adalah faktor penting yang turut membatasi kekuasaan raja. Sekalipun A.Z. Abidin tidak secara eksplisit menyebut mereka topanrita, tapi peran mereka sepenuhnya identik dengan konotasi topanrita yang dikemukakan di atas. Maka, menurut Karaeng Pattingaloang, salah seorang ilmuan dan cendekiawan ulung kerajaan Gowa Tallo abad ke-17, salah satu di antara lima faktor keruntuhan suatu negeri (lima pammanjenganna matena butta lompowa) adalah jika tiada lagi cendekiawan di dalam negeri (punna tenamo tomangissengan ri lalang pa’rasanganga)(A.Z. Abidin, 1983:166-7).

Sebagai contoh, sebelum dilantik jadi datu Soppeng ke-9, Lamannussak To Akkarangeng mendatangi sejumlah topanrita di Sulsel, termasuk To Ciung Maccae (XV-XVI) di Luwu, guna mempelajari ilmu kepemimpinan. Salah satu paseng To Ciung kepada Lamannussak: “Jagaiwi balimmu wekka siseng, mujagaiwi rangeng-rangengmu wekka sisebbu, nasabak rangeng-rangeng mutu matuk solangiko” (Zainal Abidin, 1999:105) (Waspadailah lawan-lawanmu satu kali, waspadailah kawan-kawanmu seribu kali. Sebab yang terakhir inilah yang bisa membuatmu rusak). To Ciung juga menganjurkan Lammannussak sekali-sekali berkonsultasi dengan cendekiawan --yang tidak biasa berkunjung ke istana seperti halnya para oportunis—tentang masalah-masalah yang perlu diselesaikan dengan matang karena mereka mengatakan banyak kebenaran (Obbi’i to accae tassiseng-siseng mutanaiwi, nasaba’ maegatu patuju napau).

Di antara nama topanrita yang kerap muncul dalam wacana orang tua-tua Bugis-Makassar karena pesan-pesan mereka yang universal dan perenial --seperti direkam berbagai Lontara-- adalah To Ciung Maccae di Luwu (Abad XV), Nene Maggading di Suppa' (abad XV), La Tiringeng To Taba' di Wajo (Abad XV), La Waniaga Arung Bila di Soppeng (Abad XVI), Nene Pasiru' (Abad XV) dan La Pagala Nene Mallomo (Abad XVI) di Sidenreng, La Mellong Kajao La Liddong di Bone (abad XVI), Karaeng Botolempangan di Gowa (abad XVII), dan I Mangadacinna Daeng Sitaba Kareang Pattingalloang di Gowa-Tallo (abad XVII). Sosok La Tiringeng To Taba mungkin bisa diulas lebih jauh sekedar sebagai contoh.

Menurut Andi Pabarangi, peran La Tiringeng takdapat dipisahkan dari perjanjian awal antara rakyat dan raja Wajo di La Paddeppa’ yang berhasil merumuskan prinsip-prinsip utama ketatanegaraan (konstitusi) kerajaan Wajo. Abdurrazak Daeng Patunru dalam Sejarah Wajo (1964) menyatakan, lepas dari peran penting lima Arung Matowa Wajo terkemuka (La Tadampare', La Mungkace', La Tenrilai, La Salewangeng dan La Maddukelleng), La Tiringeng adalah tokoh besar Wajo. Arung Saotanre yang bergelar Arung Bettempola ini hidup sezaman dengan empat Arung Matowa Wajo yang pertama. Bettempola adalah negeri bagian kerajaan Wajo selain Talotenreng dan Tua.

Selama hidupnya, La Tiringeng kerapkali mengambil alih peranan Arung Matowa merumuskan berbagai undang-undang dan keputusan penting tentang berbagai masalah sosial-politik Wajo di abad ke-15 dan 16, masa-masa ketika kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya (Z.A. Farid, 1985). Karena kecerdasan dan kebijaksanaannya juga, La Tiringeng menjadi tempat orang-orang Wajo bertanya dan meminta nasehat atas beragam persoalan. Namun, dia selalu menolak permintaan (bahkan “tekanan”) rakyat Wajo agar dia menjadi Arung Matoa tiap kali terjadi kekosongan pemerintahan. Alasan dia, hal itu bertentangan dengan perjanjian awalnya dengan rakyat Wajo. Menurut A. Z. Abidin (1999), La Tiringeng dipandang pemimpin rakyat bukan saja karena ascribed status dan kesakralannya, tetapi juga terutama karena personal qualities dan jasanya menyusun dan melaksanakan sistem kekuasaan raja dan aparatnya yang terbatas. Tidak berlebihan jika A.D. Patunru (1964: 21) memandang La Tiringeng sebagai “ahli filsafat” Wajo.

Sebagaimana To Ciung Maccae, Nene Mallomo, Arung Bila, Kajao La Liddong dan Karaeng Pattingalloang, La Tiringeng mewujudkan diri sebagai sosok topanrita par excellence; seorang cendekiawan dan negarawan yang bijaksana dan cerdas, ahli hukum yang tegas, jujur dan tidak terbius kekuasaan dan kekayaan serta sangat mencintai rakyatnya. Tidak aneh, petuah-petuahnya ratusan tahun silam tampak masih relevan ditelaah sebagai sumber inspirasi dan pedoman dalam menata kehidupan sosial, hukum, politik dan pemerintahan di masa kini, baik di tingkat lokal maupun nasional. Salah satu pesan La Tiringeng, “Napoallebirengngi to Wajoe, maradekae, na malempu, na mapaccing ri gau’ salae, mareso mappalaong, na maparekki ri warang-paranna (ibid: 21). Maknanya, orang Wajo mulia karena mereka memiliki kebebasan, kejujuran, kesucian dari prilaku buruk, kerajinan bekerja, dan memelihara harta benda.

Setelah hampir seluruh kerajaan di Sulsel terislamisasi secara struktural pada awal abad ke-17, konsep topanrita tampaknya juga mengalami perkembangan. Kini topanrita lebih banyak merujuk kepada sosok ulama tradisional atau gurutta. Suatu hal yang tak mengherankan mengingat, setelah kedatangan Islam, muncullah ‘ulama yang mengambil alih peran topanrita dalam makna tradisionalnya. Ulama tradisional tidak saja menguasai ilmu-ilmu keislaman, tapi juga memahami masalah kejiwaan, kesehatan, sosial, hukum, budaya dan politik yang muncul dalam masyarakatnya. Wajarlah, mereka tidak saja menjadi gurutta (guru kita) dalam arti mengajari orang-orang tentang berbagai masalah agama, tetapi juga tempat meminta nasehat dan doa, misalnya, demi kesuksesan bisnis, keberhasilan panen, kesembuhan dari penyakit jasmani dan rohani, penyelesaian masalah hukum, kemenangan dalam pertempuran (ilmu kesaktian), dll.

Lebih penting lagi, para ulama juga berperan sebagai penasehat atau konsultan para raja (sultan) dalam menyelesaikan berbagai masalah kerajaan. Dalam terminologi modern, topanrita/ulama menjadi salah satu komponen penting civil society yang membatasi wewenang dan kekuasaan raja, sesuatu yang menjadi prasyarat demokrasi. Syekh Yusuf boleh jadi adalah contoh terbaik sosok ulama seperti ini di kerajaan Gowa dan Banten. Sementara AGH. Muhammad As’ad di Wajo dan AGH. Abdurrahman Ambo Dalle di Barru, sekedar menyebut dua contoh, adalah sosok topanrita di masa kontemporer.

Jadi, seperti ditunjukkan, dalam bidang sosial, hukum, budaya, agama dan kekuasaan politik, peran topanrita dalam masyarakat Sulsel sangat sentral. Hubungan harmonis dan saling menghargai antara para arung dan topanrita adalah salah satu faktor penting sehingga beberapa kerajaan tradisional Sulsel dapat mencapai puncak kegemilangan dalam fase-fase tertentu sejarah mereka. Prinsip sipakalebbi (saling menghormati), sipakatau (saling menghargai), dan sipakainge’ (saling mengingatkan) antara arung dan topanrita benar-benar terpelihara.

Walhasil, dalam konteks perpolitikan Sulsel kontemporer, apakah hubungan seperti ini masih terlihat di antara arung/penguasa dan topanrita/ulama? Masih banyakkah pejabat tinggi yang mau mendatangi cendekiawan/ulama dan meminta nasehat dan kritik dari mereka seperti dilakukan Lamannussak di atas? Atau, masihkah kita punya ulama dengan kualifikasi topanrita --dalam pengertian tradisionalnya-- yang senantiasa concern dengan masalah-masalah umat, termasuk berani menasehati dan mengoreksi pejabat? Semoga kedua pihak tidak malah suka sipakasiri’-siri’ (saling mempermalukan), sipakatau-tau (saling mengancam dan menakut-nakuti) dan sipakalinge’-linge’ (saling gila-gilaan) di mata rakyat? Saya optimis jawaban untuk ketiga pertanyaan di atas adalah positif.

** Sumber tulisan: http://wahyuddinhalim.blogspot.com
 
Your